Great Reset: Dari Inisiatif Ekonomi Global hingga Menjadi Teori Konspirasi di Dunia Maya

Wednesday, September 30, 2026

Wajib dibaca

NARASIKEPRI.COM — Istilah Great Reset sempat menjadi salah satu topik yang ramai diperbincangkan di internet setelah World Economic Forum (WEF) memperkenalkannya pada 2020, ketika dunia menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi COVID-19.

Namun, dalam perkembangannya, istilah tersebut tidak hanya digunakan untuk membahas gagasan pemulihan ekonomi. Di berbagai platform digital, Great Reset kemudian dikaitkan dengan beragam narasi konspirasi, mulai dari dugaan adanya pemerintahan dunia rahasia hingga tuduhan bahwa pandemi COVID-19 sengaja diciptakan untuk mengubah tatanan sosial dan ekonomi global.

Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Great Reset dan bagaimana istilah yang berasal dari sebuah agenda terbuka tersebut berubah menjadi bahan berbagai teori konspirasi?

Berawal dari gagasan WEF pada 2020

Great Reset pertama kali diperkenalkan secara resmi oleh WEF pada Juni 2020. WEF menyebutnya sebagai tema pertemuan dan inisiatif untuk membicarakan bagaimana sistem ekonomi dan sosial dapat dibangun kembali setelah pandemi dengan perhatian lebih besar terhadap keberlanjutan, ketahanan ekonomi dan persoalan sosial.

Pengumuman tersebut dilakukan oleh pendiri sekaligus Executive Chairman WEF, Klaus Schwab, bersama Pangeran Wales, yang saat itu merupakan Charles, Prince of Wales. WEF menyatakan bahwa pandemi membuka kesempatan untuk mengevaluasi kembali sistem ekonomi dan sosial yang telah berjalan.

Dalam gagasan tersebut, WEF antara lain membicarakan perubahan dalam sistem ekonomi, kebijakan publik, teknologi, lingkungan, dunia kerja dan hubungan antara pemerintah dengan sektor swasta.

Schwab juga menulis bahwa pandemi dapat menjadi momentum untuk melakukan perubahan terhadap berbagai aspek kehidupan ekonomi dan sosial. Salah satu gagasan yang dikemukakan adalah perlunya mengarahkan sistem ekonomi menuju hasil yang dianggap lebih adil serta memperkuat kerja sama pemerintah dan sektor swasta.

WEF kemudian memperluas pembahasan tersebut melalui berbagai forum dan menerbitkan buku COVID-19: The Great Reset, yang ditulis Klaus Schwab bersama Thierry Malleret pada Juli 2020. Buku tersebut membahas dampak pandemi terhadap ekonomi, bisnis dan masyarakat serta kemungkinan perubahan setelah krisis kesehatan global.

Dengan demikian, keberadaan istilah Great Reset bukanlah sesuatu yang tersembunyi. WEF mengumumkannya secara terbuka dan mendokumentasikan gagasan tersebut melalui situs, pertemuan, publikasi serta berbagai materi komunikasi.

Mengapa kemudian muncul teori konspirasi?

Persoalan muncul ketika gagasan tersebut mulai dibahas secara luas di media sosial.

Istilah Great Reset yang pada awalnya digunakan WEF untuk menggambarkan gagasan perubahan ekonomi dan sosial pascapandemi kemudian dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu untuk membangun narasi yang jauh lebih luas.

Dalam narasi konspiratif tersebut, pandemi COVID-19 disebut-sebut sebagai bagian dari rencana kelompok elite global untuk mengambil alih kekuasaan, melemahkan negara, menghapus kebebasan individu atau menciptakan pemerintahan dunia.

Sejumlah versi bahkan menghubungkan Great Reset dengan narasi lama mengenai New World Order atau tatanan dunia baru.

Anti-Defamation League (ADL) mencatat bahwa teori konspirasi tersebut berkembang sejak 2020 dan menggabungkan berbagai narasi lama tentang elite global, kedaulatan negara dan dugaan agenda tersembunyi dengan situasi pandemi.

Pemeriksa fakta Full Fact juga menyimpulkan bahwa keberadaan Great Reset sebagai inisiatif WEF memang nyata, tetapi berbagai klaim yang berkembang di internet mengenai agenda rahasia dan tujuan tertentu yang tidak didukung bukti merupakan bagian dari teori konspirasi.

Baca Juga :  Kapal Meledak dan Terbakar di Galangan PT ASL Shipyard Batam, 9 Tewas dan Beberapa Luka Bakar

Video Justin Trudeau ikut memicu perdebatan

Salah satu momen yang membuat istilah Great Reset semakin populer terjadi pada November 2020.

Video pidato Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 2020 kembali beredar luas di media sosial. Dalam pidatonya, Trudeau menyebut pandemi sebagai kesempatan untuk melakukan “reset” dan mempercepat upaya menghadapi persoalan seperti kemiskinan, ketimpangan serta perubahan iklim.

Potongan pernyataan tersebut kemudian dikaitkan dengan agenda WEF oleh pengguna media sosial dan dijadikan argumen bahwa pemimpin dunia sedang menjalankan sebuah rencana global yang telah disusun sebelumnya.

Namun, pemeriksaan AFP terhadap klaim tersebut menemukan bahwa video pidato Trudeau memang autentik, tetapi tidak menjadi bukti bahwa pandemi merupakan bagian dari rencana rahasia untuk mengambil alih masyarakat dunia.

BBC juga mencatat bahwa video tersebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya perhatian terhadap narasi Great Reset di media sosial pada akhir 2020.

Dengan kata lain, penggunaan kata “reset” oleh seorang pemimpin politik tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa yang dimaksud adalah program WEF.

Kritik terhadap WEF tetap merupakan hal yang berbeda

Munculnya teori konspirasi tidak berarti seluruh kritik terhadap WEF harus dianggap tidak valid.

WEF merupakan organisasi internasional yang mempertemukan tokoh pemerintah, dunia usaha, akademisi dan berbagai pemangku kepentingan. Forum tersebut memiliki pengaruh besar dalam diskusi mengenai ekonomi global.

Karena itu, gagasan yang dibahas di dalamnya memang dapat diperdebatkan secara terbuka.

Perdebatan yang sah antara lain menyangkut seberapa besar pengaruh organisasi nonpemerintah terhadap kebijakan publik, bagaimana kepentingan perusahaan besar terlibat dalam pembentukan agenda ekonomi, dampak kebijakan transisi energi terhadap masyarakat, serta bagaimana perkembangan teknologi memengaruhi pekerjaan dan privasi.

Persoalan tersebut berbeda dari tuduhan bahwa terdapat kelompok rahasia yang telah merencanakan pandemi untuk membentuk pemerintahan dunia.

Kritik kebijakan dapat diuji melalui dokumen, pernyataan resmi, dampak kebijakan dan proses politik. Sementara itu, tuduhan mengenai operasi rahasia membutuhkan bukti yang jauh lebih spesifik dan dapat diverifikasi.

Klaim tentang penghapusan kepemilikan juga kerap disalahartikan

Salah satu narasi yang kemudian dikaitkan dengan Great Reset adalah klaim bahwa WEF mempunyai tujuan membuat masyarakat tidak lagi memiliki barang pribadi.

Narasi tersebut antara lain berangkat dari materi WEF yang pernah membahas kemungkinan kehidupan pada 2030, termasuk sebuah video yang memuat prediksi mengenai masyarakat yang lebih banyak menggunakan layanan dibanding memiliki barang.

Namun, materi tersebut tidak sama dengan keputusan atau kebijakan WEF yang mewajibkan masyarakat kehilangan kepemilikan pribadi.

PolitiFact, dalam pemeriksaan terhadap klaim tersebut, menyatakan tidak menemukan bukti bahwa WEF mempunyai rencana untuk mengambil seluruh kepemilikan masyarakat sebagai bagian dari Great Reset. Pemeriksaan tersebut juga merujuk pada sejumlah pemeriksaan fakta sebelumnya mengenai klaim serupa.

Hal ini menunjukkan pentingnya membedakan antara sebuah skenario atau prediksi mengenai masa depan dengan kebijakan yang benar-benar ditetapkan dan mempunyai kekuatan hukum.

Baca Juga :  Viral! Dua Anak Titipkan Ibu ke Panti Lansia dengan Surat Tak Akan Dijemput, Berakhir dengan Tangis Penyesalan

Bagaimana teori tersebut terus berkembang?

Salah satu karakteristik teori konspirasi adalah kemampuannya menggabungkan berbagai peristiwa ke dalam satu narasi.

Pandemi COVID-19 menjadi titik awal yang kuat karena terjadi bersamaan dengan perubahan besar dalam ekonomi, pembatasan aktivitas masyarakat, percepatan digitalisasi dan kebijakan pemerintah di berbagai negara.

Dalam situasi penuh ketidakpastian tersebut, berbagai klaim mengenai vaksin, teknologi, perubahan iklim, identitas digital, ekonomi global dan organisasi internasional kemudian kerap disatukan dengan istilah Great Reset.

Sejumlah pemeriksa fakta juga menemukan berbagai klaim palsu yang menggunakan nama Klaus Schwab atau WEF sebagai sumber pernyataan yang sebenarnya tidak pernah mereka keluarkan.

Pada 2024, misalnya, PolitiFact memeriksa klaim bahwa Schwab mengakui adanya “revolusi politik” yang menghancurkan agenda Great Reset. Tidak ditemukan bukti kredibel bahwa Schwab pernah membuat pernyataan seperti yang diklaim dalam unggahan tersebut.

Kasus lain menunjukkan bagaimana kutipan palsu dan potongan video dapat digunakan untuk memberikan kesan seolah-olah sebuah pernyataan memiliki hubungan langsung dengan agenda Great Reset.

Jadi, apa sebenarnya Great Reset?

Berdasarkan dokumen publik WEF, Great Reset merupakan nama yang digunakan untuk sebuah gagasan dan agenda diskusi mengenai perubahan ekonomi serta sosial setelah pandemi COVID-19.

WEF secara terbuka mengaitkannya dengan isu seperti ketahanan ekonomi, ketimpangan, keberlanjutan lingkungan, teknologi, dunia kerja dan kerja sama antara pemerintah dengan sektor swasta.

Hal tersebut tidak berarti semua gagasan WEF harus diterima atau bebas dari kritik. Sebaliknya, gagasan tersebut dapat dinilai berdasarkan bukti, dampak kebijakan dan kepentingan pihak-pihak yang terlibat.

Namun, sampai pada bukti yang dapat diverifikasi, tidak ditemukan dasar yang mendukung klaim bahwa Great Reset merupakan program rahasia WEF untuk mendirikan pemerintahan dunia totaliter atau bahwa pandemi COVID-19 sengaja direkayasa sebagai bagian dari rencana tersebut. Sejumlah pemeriksa fakta independen telah menilai klaim-klaim semacam itu sebagai tidak berdasar atau palsu.

Pentingnya memeriksa konteks

Perjalanan istilah Great Reset memberikan gambaran bagaimana sebuah istilah kebijakan yang nyata dapat memperoleh makna baru ketika beredar di media sosial.

Ada tiga hal yang perlu dibedakan.

Pertama, inisiatif yang benar-benar diumumkan WEF dan dapat ditemukan dalam dokumen publik.

Kedua, kritik terhadap gagasan tersebut, yang merupakan bagian dari perdebatan ekonomi, politik dan sosial yang sah.

Ketiga, klaim konspiratif yang menambahkan tuduhan mengenai rencana rahasia, kendali populasi atau rekayasa pandemi tanpa bukti yang dapat diverifikasi.

Mencampurkan ketiganya dapat membuat informasi yang sebenarnya tersedia untuk publik menjadi sulit dibedakan dari spekulasi.

Bagi masyarakat, terutama di tengah derasnya arus informasi digital, pemeriksaan terhadap sumber asli menjadi penting. Pernyataan lengkap, dokumen resmi, tanggal publikasi, konteks video dan hasil pemeriksaan fakta perlu diperiksa sebelum sebuah klaim dianggap sebagai fakta.

Pada akhirnya, Great Reset memang pernah dan secara terbuka digunakan sebagai nama sebuah agenda WEF. Tetapi berbagai cerita yang berkembang di internet mengenai agenda rahasia di balik istilah tersebut tidak otomatis menjadi benar hanya karena istilah dan organisasi yang disebut memang nyata. (Bayu SP)

Lebih Banyak Artikel

- Advertisement -spot_img

Artikel Terbaru